Moment Mima Kristina, dengan bangga memengang SK Yudisium bukti dari Perjuangannya selama dibangku studi.
Jayapura , 10 Juni 2026– Jika ada kata yang maknanya lebih
dalam dari sekadar “senang”, mungkin kata itulah yang paling tepat untuk
mendeskripsikan perasaan Mirna Kristina.
Hari itu, Mirna senyum lega dan raut haru tak lepas dari
wajahnya. Mahasiswi lulusan Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis (FEB) Universitas Ottow Geisller Papua ini baru saja merayakan
kemenangannya menyandang gelar sarjana manajemen (S.M), sebuah pencapaian yang
diraih melewati jalan terjal penuh keringat dan air mata.
“Mengucap syukur sekali sama Tuhan, karena dalam setiap
perjalanan dan pergumulan, Tuhan selalu menolong. Kalau ditanya perasaan,
dibilang senang saja tidak cukup.
Aduh, senang sekali rasanya bisa sampai di titik ini
karena rintangan dan cobaannya cukup banyak,” ungkap Mirna dengan mata yang
berbinar-binar.
Bertahan Hidup di Tanah Rantau
Perjalanan akademik Mirna jauh dari kata mulus. Jauh dari
pandangan orang tua di tanah rantau menjadi ujian mental pertamanya. Namun,
ujian sesungguhnya yang paling mendesak adalah realita finansial.
Sebagai mahasiswa, Mirna memang tercatat sebagai salah satu
penerima beasiswa KIP Kuliah.
Namun, tingginya biaya hidup seringkali membuat dana
tersebut terasa kurang. “Biaya dari KIP Kuliah itu kurang cukup untuk menutupi
biaya kos, makan sehari-hari, dan kebutuhan kuliah lainnya. Jadi, untuk
bertahan, sambil kuliah kita harus berjualan dan bekerja,” kenangnya.
Ujian Skripsi yang Menguras Kantong dan Emosi
Tantangan tidak berhenti pada urusan bertahan hidup. Di
ruang kelas, Mirna dihadapkan pada standar akademik yang disiplin. Kualitas
dosen yang mumpuni menuntutnya untuk terus memacu diri; tertinggal sedikit
saja, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan.
Fase terberat tiba di penghujung masa studi: skripsi. Proses
pencarian data penelitian rupanya memakan biaya yang tidak sedikit, melemparnya
kembali pada persoalan finansial yang pelik.
Puncaknya terjadi di ruang ujian skripsi, saat ia harus
menghadapi berondongan pertanyaan dosen penguji yang kritis dan mengecoh.
“Mendapatkan biaya untuk riset itu tidak mudah. Belum lagi
pertanyaan dosen saat ujian lumayan mengecoh. Saking banyaknya tantangan,
kadang sampai bingung mau memikirkan yang mana duluan,” tuturnya seraya tertawa
kecil mengenang masa-masa menegangkan tersebut.
Mimpi Besar Sang Juragan Risol
Himpitan ekonomi tak lantas membuat Mirna menyerah.
Sebaliknya, hal itu mengasah insting wirausahanya.
Usaha berjualan risol yang awalnya menjadi “sekoci
penyelamat” untuk menyambung hidup semasa kuliah, kini justru menjadi peta
jalan masa depannya.
Setelah lulus, Mirna memiliki visi yang jauh lebih besar
dari sekadar mencari aman. “Saya pasti akan melanjutkan usaha berjualan risol.
Saya tidak mau risol saya hanya dikenal di kalangan kampus
atau teman-teman sekitar saja. Saya mau semua orang di Jayapura bisa merasakan
risol buatan saya,” tegasnya penuh keyakinan.
Meski memiliki ambisi besar di dunia usaha, Mirna tetap
bersikap realistis. Ia berencana mencari pekerjaan formal untuk membangun
fondasi ekonomi yang lebih kuat demi menopang pengembangan usahanya.
Pesan Penutup: “Jangan Malas Kuliah!”
Sebelum melangkah pergi dari kampus yang telah mendidiknya,
Mirna menitipkan pesan yang sangat membumi bagi adik-adik tingkatnya. Kuncinya,
menurut Mirna, bukan sekadar memiliki otak yang cerdas, melainkan mental yang
tangguh dan ketekunan.
“Semangat terus, pantang menyerah. Buat teman-teman yang
masih malas pergi ke kampus, kalian harus rajin.
Mungkin nilai akademik kita biasa saja, tapi dengan rajin
hadir, dosen punya penilaian tersendiri terhadap kesungguhan kita. Berjuanglah
sampai mendapat gelar yang diimpikan,” pesannya menutup perbincangan.
Perjalanan Mirna Kristina adalah bukti nyata. Bahwa dengan
ketekunan, keberanian melawan rasa malas, dan sepotong risol yang dijajakan
penuh harapan, gelar sarjana bukanlah mimpi yang mustahil untuk
digenggam. (Alyn Beay)